Keraton Yogyakarta Gelar Labuhan Parangkusumo

Labuhan Parangkusumo

( Acara Labuhan Parangkusumo, Senin 16 April 2018. Foto: Twitter @Kratonjogja) )

Dolungo, Yogyajakarta- Keraton Yogyakarta menggelar upacara Labuhan di Pantai Parangkusuma, Bantul, DIY, Senin (16/4/2018) pagi. Acara ini digelar usai acara Sugengan di Emper Bangsal Kencana, hari Minggu (15/4/2018) kemarin.

Seluruh ubarampe labuhan tingalan jumenengan dalem telah dipersiapkan dan diinapkan sejak semalam di Bangsal Sri Manganti. Salah satu jenis ubarampe Labuhan Parangkusuma adalah lorodan Busana Dalem ‘pakaian raja’

KRT Purwodiningrat memimpin persiapan labuhan di Bangsal Sri Manganti, untuk dibawa menuju Parangkusuma. Sebelum dilabuhkan, rangkaian uborampe diserah terimakan dari pihak keraton Yogyakarta kepada pihak Pemerintah Daerah Sleman, di Kecamatan Depok.

Selanjutnya ubarampe labuhan disiapkan & didoakan di pendopo pemancingan Parangkusuma. Setelah diserahterimakan, ubarampe Labuhan Parangkusuma langsung dibawa ke pantai selatan untuk dilabuhkan.

Abdi Dalem bawa uborampe

(Abdi Dalem dari KHP Widyabudaya telah bersiap membawa uborampe di Bangsal Sri Manganti. Foto: twitwr @kratonjogja)

Sementara itu, pihak Keraton Yogyakarta juga menyerahkan rangkaian uborampe Labuhan Merapi kepada Pemerintah Derah Sleman di Kecamatan Kretek. Namun acara Labuhan Merapi akan digelar esok hari, Selasa (17/4/2018) pukul 06:00 WIB dari Kinahrejo.

Di luar Yogyakarta, 2 rombongan dari keraton Yogyakarta juga melakukan serah terima uborampe Labuhan Lawu kepada Pemda Karanganyar dan serah terima Labuhan Dlepih kepada pihak Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri.

Parangkusumo terletak di pesisir selatan Yogyakarta, atau lebih tepatnya berada di wilayah Kabupaten Bantul. Parangkusumo merupakan tempat yang dipilih Panembahan Senopati untuk bertapa, merenung dan memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar bisa menjadi pemimpin yang baik.

Menurut legenda, ketika bertapa, Panembahan Senopati bertemu dengan penguasa laut selatan yaitu Kanjeng Ratu Kidul. Dalam pertemuan tersebut Kanjeng Ratu Kidul berjanji akan membantu Panembahan Senopati dan keturunannya.

Pada akhirnya, Panembahan Senopati berhasil mendirikan sebuah kerajaan, yaitu Mataram dan Keraton Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan penerusnya. Hal inilah yang mendasari dipilihnya Parangkusumo sebagai salah satu lokasi labuhan.

Labuhan berasal dari kata labuh yang artinya membuang, meletakkan, atau menghanyutkan. Maksud dari labuhan ini adalah sebagai doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk.

Pada pelaksanaannya, Keraton Yogyakarta melabuh benda-benda tertentu yang disebut sebagai ubarampe labuhan. Uborampe labuhan yang akan dilabuh di tempat-tempat tertentu atau yang disebut petilasan, beberapa diantaranya merupakan benda-benda milik Sultan yang bertahta.

Pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Hajad Dalem Labuhan tidak diselenggarakan untuk memperingati hari penobatan (Jumenengan Dalem), melainkan untuk peringatan hari ulang tahun Sultan (Wiyosan Dalem) berdasarkan kalender Jawa.

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Bawono ka10, Hajad Dalem Labuhan dikembalikan untuk peringatan Jumenengan Dalem. Setiap tahun, Upacara Labuhan digelar satu hari setelah puncak acara Jumenengan Dalem (29 Rejeb) sehingga jatuh pada tanggal 30 Rejeb.

Upacara Labuhan diselenggarakan di beberapa lokasi yang disebut dengan petilasan. Petilasan merupakan tempat yang dinilai penting dan memiliki nilai historis terkait keberadaan Keraton Yogyakarta. Dipilihnya petilasan sebagai lokasi upacara Labuhan adalah sebagai wujud menghargai, menghormati, merenungi, serta menapak tilas perjuangan raja-raja pendahulu Keraton Yogyakarta.

Selain Parangkusumo, tempat labuhan lainnya adalah

1. Labuhan Merapi
Gunung Merapi terletak di wilayah Kabupaten Sleman yang berada tepat di ujung utara wilayah DIY. Gunung Merapi menjadi salah satu lokasi labuhan karena dianggap berperan dalam sejarah berdirinya kerajaan Mataram. Pada tahun 1586, kondisi politis Kerajaan Pajang dan Mataram memanas.

Hal ini disebabkan karena perkembangan Mataram sebagai wilayah otonom dibawah kerajaan Pajang sangat pesat sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi penguasa kerajaan Pajang yang kala itu dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya.
Keresahan itu membuat Kerajaan Pajang menggulirkan rencana perang untuk melemahkan Mataram. Ketika pasukan Pajang menyerbu Mataram, pada saat bersamaan Gunung Merapi meletus.

Letusan Merapi menghancurkan perkemahan pasukan Pajang di wilayah Prambanan. Perangpun berakhir, dan selamatlah Mataram dengan mundurnya pasukan Pajang.

2. Labuhan Lawu
Gunung Lawu dipercaya sebagai tempat pengasingan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1478, Majapahit diserang oleh Girindrawardhana dari Kerajaan Kaling.

Karena tentara Majapahit tidak mampu menghalau serangan tersebut, Prabu Brawijaya V memutuskan untuk menyingkir ke Gunung Lawu dan hidup menjadi seorang pertapa dan bergelar Sunan Lawu.

Prabu Brawijaya V merupakan leluhur dari pendiri kerajaan Mataram dan Keraton Yogyakarta sehingga sebagai bentuk penghormatan, Gunung Lawu dipilih menjadi lokasi upacara labuhan.

Gunung Lawu terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setiap dilaksanakan Upacara Labuhan, uborampe labuhan diserahterimakan kepada Juru Kunci Gunung Lawu yang berada di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

3. Labuhan Dlepih Khayangan
Perbukitan Dlepih Khayangan terletak di kecamatan Tirtamaya, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Selain Parangkusumo, Dlepih Khayangan merupakan tempat yang digunakan Panembahan Senopati untuk bertapa sebelum membangun kerajaan dan pemerintahan yang kuat.

Selain Panembahan Senopati, tempat ini juga digunakan untuk bertapa raja-raja Mataram dan raja Kasultanan Yogyakarta, yaitu Sultan Agung Hanyakrakusumo dan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I).

Berbeda dengan upacara labuhan lainnya, upacara Labuhan Dlepih Khayangan hanya dilaksanakan delapan tahun sekali pada tahun Dal atau setiap sewindu penobatan Sultan.

Upacara ini digolongkan dalam Labuhan Ageng, sedangkan upacara Labuhan yang lain digolongkan dalam Labuhan Alit yang digelar setiap tahun.

(Sumber: twiter @kratonjogja dan kratonjogja.id)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s